Cerita malam ini, memang tak seberapa, tapi jemari ini ingin menyampaikanNya.
Di depan emperan sebuah perumahan TNI di kenjeran, kota Surabaya, malam ini nampak seorang nenek duduk dengan menekuk kakinya.
Meski jarum jam sudah menujukkan pukul 21:00. Nenek itu tak beranjak dari tempat duduknya. Dia masih setia menemani jualanya.
Berapaan ini?
35 nak.
Kalau yang ini?
45 nak.
Enak itu manis.
Ku menikmati malam ini dengan penuh kehangatan, selepas menyantap keinginan untuk memuaskan perut.
Seraut wajah keriput, gigi tinggal dua bagian atas dan senyum lembut ketika setiap orang datang menghampirinya. didepan saya dia bercerita, mulai berangkat menuju Surabaya dengan truk, lalu angkot, dan menaiki becak untuk sampai ke tujuan. Membayangkan saja aku tidak akan pernah sanggup. Seorang wanita yang tangguh telah hadir menyapaku malam ini.
Beruntung sekali memiliki keluarga yang luar biasa.
Nenek dari mana?
Madura.
Kamu nak dari mana?
Lamongan nek.
Jauh juga ya lamongan, Lamongan sedang musim apa?
Musim panen padi dan jagung nek.
Berapa jam Lamongan-Surabaya?
dua jam.
Masih jauhan saya berarti, saya dari Madura jauh banget..
Madura mana nek.
Madura Sampang?
Bukan, Madura Sampang masih dekat.
Namun nenek tidak mau menyebutkan desanya.
Baru saja aku ingin menanyakan namanya, dia tidak pernah mau menyebutkannya.
Sedangkan aku ingin berbagi keindahan denganya, sungguh tangguh perempuan sepertimu: (husnulabid)